![]() |
| COVID-19 menambah tantangan yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan |
ASLIKARTU - Dengan Indonesia masih dalam cengkeraman virus corona, yang diketahui menyebabkan sindrom pernafasan akut (SARS) yang parah, kebakaran hutan dan kabut asap yang terkait bisa berpotensi menimbulkan bencana ganda, mencekik manusia dan hewan. Agen Poker
Kebakaran hutan biasanya diketahui terjadi setiap tahun di pulau-pulau Sumatra dan Kalimantan selama musim kemarau. Mereka sering menghasilkan kabut asap yang dapat menyelubungi negara-negara tetangga, khususnya Malaysia dan Singapura.
Tahun ini, puncak musim kemarau diperkirakan untuk Agustus dan September.
Selama rapat kabinet terbatas yang diketuai oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta pada tanggal 23 Juni 2020, Doni Monardo, kepala Satuan Tugas untuk Percepatan Tanggapan COVID-19, memperingatkan bahwa asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan, terutama lahan gambut , dapat berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat dan meningkatkan risiko orang yang tertular penyakit coronavirus (COVID-19).
"Asap tebal dapat menimbulkan ancaman kesehatan bagi masyarakat, terutama mereka yang sakit asma atau ISPA (infeksi saluran pernapasan akut). Dampaknya bisa berbahaya bagi pasien asma bila terpajan COVID-19," kata Monardo.
Karenanya, Jokowi telah memerintahkan para menterinya untuk mengambil langkah pencegahan terhadap kebakaran hutan dan lahan, Monardo menambahkan.
Dia menekankan perlunya kerja sama yang lebih erat antara semua bagian masyarakat di semua wilayah untuk mengurangi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di daerah rawan kebakaran.
"Ada kebutuhan mendesak untuk kerja keras dan kerja sama dari semua bagian masyarakat di semua wilayah yang setiap tahun mengalami kebakaran hutan dan lahan yang signifikan, terutama di daerah lahan gambut," katanya.
"Kami (harus) menghindari asap, sehingga kami juga dapat melindungi diri dari bahaya pandemi COVID-19," katanya.
Saat membuka pertemuan terbatas untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, Jokowi menegaskan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau pada bulan Agustus, 2020.
Kepala negara menjelaskan bahwa hampir 17 persen dari wilayah Indonesia mengalami kekeringan pada bulan April 2020, sementara 38 persen dari daerah lain mundur di bawahnya pada bulan Mei 2020, dan 27 persen dari daerah lain pada Juni 2020.
Agen Domino
"Kekeringan akan terjadi di sebagian besar wilayah pada bulan Agustus. Kami masih memiliki periode persiapan singkat satu bulan dari sekarang," kata Presiden.
Ketika negara ini bergulat dengan pandemi COVID-19, Indonesia juga memiliki tugas besar untuk mengambil tindakan pencegahan terhadap kebakaran lahan dan hutan, katanya.
Jokowi juga menyoroti perlunya menggunakan teknologi untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan, sambil memantau daerah rawan kebakaran.
"Manajemen di lapangan harus dikoordinasikan dengan benar. Menerapkan teknologi untuk memantau daerah rawan kebakaran dan memperbarui informasi," katanya.
Presiden juga menyerukan upaya untuk mengatur pengelolaan ekosistem gambut secara konsisten.
Penataan lahan gambut dilakukan dengan mempertahankan level air tanah dan membangun blok kanal, kolam, dan sumur bor.
"Kami telah menerapkan teknologi pembasahan lainnya, tetapi harus dilakukan secara konsisten," kata Presiden.
Sementara itu, dalam pertemuan tersebut, Menteri Urusan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengatakan bahwa pemerintah Indonesia sedang mengantisipasi potensi ledakan kebakaran hutan, terutama di Sumatra utara, Riau, Aceh, dan sebagian Sumatera Utara, serta Kalimantan.
Bahkan, pemerintah melakukan modifikasi cuaca untuk menghasilkan hujan di beberapa tempat, seperti Riau dan bagian lain Sumatera, pada bulan April dan Mei, untuk mengendalikan asap dari kebakaran hutan.
Ada rencana untuk melakukan modifikasi cuaca lagi di Kalimantan, katanya. Berdasarkan analisis cuaca, titik api di Kalimantan akan kuat dengan dimulainya musim kemarau pada bulan Juli. Titik api akan memuncak pada akhir Agustus hingga awal September.
“Semoga ini (modifikasi cuaca) bisa menjadi solusi. Daripada terus memadamkannya (kebakaran hutan), dengan ini, kita dapat secara sistematis mempersiapkannya, "katanya.
Selain modifikasi cuaca, pemerintah juga mengintensifkan pemantauan dan kontrol dengan melibatkan polisi dan militer untuk mencegah kebakaran hutan.
Sementara itu, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, telah mengklaim bahwa Indonesia telah berhasil meminimalkan kebakaran hutan, tanpa kebakaran besar yang dilaporkan di negara ini selama beberapa tahun terakhir.
"Dalam pertemuan tersebut, kami telah membahas situasi pada tahun 2020, karena kami tidak hanya menangani kebakaran lahan dan hutan, tetapi juga COVID-19. Oleh karena itu, kami telah menyiapkan langkah-langkah bersama untuk mengantisipasi musim kemarau yang akan datang," menteri memberitahu.
Upaya untuk mencegah dan mengurangi kebakaran hutan akan membutuhkan penegakan hukum yang tegas. Karenanya, beberapa langkah hukum telah disiapkan untuk mengantisipasi kebakaran hutan tahun ini.
Pada tahun 2019, enam dari delapan provinsi yang rentan terhadap kebakaran hutan mengumumkan keadaan darurat ketika api berkobar di wilayah hutan mereka.
Tahun lalu, kebakaran hutan menghanguskan hampir 16.000 km persegi tanah, sebagian besar di pulau Sumatra dan Kalimantan. Sebagai perbandingan, kebakaran menyebabkan limbah seluas 26.000 km persegi pada tahun 2015, menghasilkan salah satu episode kabut terburuk dalam sejarah negara tersebut.
Selama periode Januari-Juli 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia mencatat total 2.070 hotspot, dengan tingkat kepercayaan lebih dari 80 persen.
Sementara itu, melalui penegakan hukum dan kontrol perusahaan, pemerintah Indonesia telah berhasil mengurangi kebakaran hutan di seluruh negeri sebesar 96,5 persen selama periode 2015-2017.
Sesuai data yang diperoleh dari satelit NOAA, 21.929 hotspot ditemukan di seluruh Indonesia pada tahun 2015, dan jumlahnya turun menjadi 3.915 pada tahun 2016, dan menjadi 2.257 pada tahun 2017.
Kebakaran liar meratakan total 2.611.411 hektar pada tahun 2015, dan angka tersebut turun menjadi 438.360 hektar pada tahun 2016, dan turun lebih jauh menjadi 165.464 hektar pada tahun 2017. Agen Sakong







0 komentar:
Posting Komentar