![]() |
| Data bantuan sosial yang akurat masih sulit dipahami pemerintah |
ASLIKARTU - Pemerintah telah berkomitmen untuk membantu warga yang paling terpukul oleh wabah COVID-19 hingga akhir tahun, tetapi masalah keandalan data yang terus-menerus telah mempersulit upaya di ibukota dan daerah lain. Agen Poker
Dalam sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan oleh Lembaga Penelitian SMERU yang dilakukan antara akhir April dan pertengahan Mei di lima kota dan kabupaten di negara itu, para peneliti menemukan contoh di mana bantuan sosial pemerintah berakhir di tangan yang salah.
Studi ini menemukan bahwa 400 dari 2.000 penerima terdaftar yang disurvei di kabupaten tertentu seharusnya tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan, baik karena mereka telah keluar dari kemiskinan atau sudah meninggal.
Studi ini tidak menentukan dari wilayah mana data ini berasal.
Jakarta memulai program bantuan sosialnya pada 9 April dan berkomitmen untuk mendukung 2,2 juta rumah tangga yang paling terdampak oleh wabah COVID-19. Program, yang akan terus mengucurkan bantuan bulanan hingga Desember, melibatkan pemerintah pusat, yang telah berkomitmen untuk mendukung mayoritas calon penerima, sekitar 1,3 juta orang.
Pepen Nazarudin, direktur jenderal pemberdayaan sosial Kementerian Sosial, mengatakan jumlah penerima tetap dan tidak dapat diubah. Dia mengatakan itu adalah tanggung jawab pemerintah kota untuk menentukan penerima mana yang harus diprioritaskan.
Di awal program, kurangnya data penerima yang dapat diandalkan menyebabkan sejumlah masalah logistik, termasuk bantuan yang tidak tepat sasaran, yang dikeluhkan Gubernur Jakarta Anies Baswedan pada bulan April.
Agen Domino
Setelah empat bulan menjalankan program, kota ini telah melihat peningkatan dalam layanannya, meskipun kekurangannya masih ada.
"Pencairan bantuan sosial untuk tahap dua hingga empat [dilakukan dari Mei hingga pertengahan Juli] telah mencapai 100 persen, yang berarti bahwa semua bantuan telah dicairkan," kata Ika Yuli Rahayu, kepala perlindungan jaminan sosial Dinas Sosial Jakarta, di hari Rabu.
Ika mengakui bahwa beberapa penerima yang tidak memenuhi syarat telah ditemukan selama proses pencairan dan bahwa pemerintah daerah biasanya mencari orang yang berhak berikutnya untuk memberikan bantuan.
“Masih ada satu atau dua [penerima yang tidak memenuhi syarat] yang kami temukan, tetapi ini tidak terjadi di setiap kecamatan,” katanya.
Pejabat itu mengatakan bahwa ketika penerima telah meninggal atau telah didaftarkan ke alamat yang salah, penerima berikutnya akan ditentukan berdasarkan rekomendasi dari unit lingkungan (RT), unit masyarakat (RW) atau kepala kecamatan.
Orang-orang yang tidak terdaftar sebagai penerima tetapi berhak atas bantuan sosial juga dapat dipertimbangkan, katanya.
Ketua Forum RT / RW Jakarta Muhammad Irsyad mengatakan bahwa kesalahan manusia adalah salah satu alasan mengapa bantuan masih berakhir dengan penerima yang tidak memenuhi syarat meskipun ada database yang diperbarui.
Wakil Gubernur Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan bulan lalu bahwa masalah data telah terjadi karena berbagai lembaga menggunakan metode yang berbeda untuk memproses informasi penerima.
Tetapi Irsyad juga mengatakan bahwa otoritas pelaksana telah meningkat sejak awal program dan bahwa para pejabat akan berusaha untuk dengan cepat menyelesaikan kasus-kasus yang belum diselesaikan.
"Tidak ada lagi kekacauan yang kami alami sejak awal," katanya.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) baru-baru ini mengungkapkan bahwa hanya 113 dari 514 kota dan kabupaten di negara itu telah memperbarui data mereka di situs Data Terpadu Kementerian Sosial untuk Kesejahteraan Sosial (DTKS), sebuah database keluarga miskin dan rentan.
Wilayah dengan data yang diperbarui sebagian besar berada di Pulau Jawa, serta Pulau Bangka Belitung dan Nusa Tenggara.
Semarang di Jawa Tengah, Bojonegoro di Jawa Timur, dan Pariaman di Sumatera Barat adalah di antara beberapa daerah lain yang telah menyediakan data baru, kata direktur Bappenas untuk pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan sosial Maliki kepada The Jakarta Post.
Di Jakarta, beberapa kota telah mengelola datanya dengan baik, tetapi keakuratan data itu - apakah penerima yang terdaftar memenuhi syarat dalam kehidupan nyata - adalah topik yang sama sekali berbeda, kata Maliki.
Pemerintah mengandalkan Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) untuk mengevaluasi akurasi data. “Susenas pada bulan September tahun ini akan menjadi peluang yang baik untuk mengevaluasi keakuratan program bantuan sosial, karena survei akan mencakup pencairan untuk empat bulan sebelumnya,” katanya.
Sekitar 1,63 juta orang Indonesia jatuh ke dalam kemiskinan antara September 2019 dan Maret tahun ini karena wabah COVID-19 berdampak pada data negara miskin, Statistik Indonesia (BPS).
Jakarta mencatat bahwa 1,11 persen dari populasinya telah jatuh ke dalam kemiskinan, peningkatan persen tertinggi di provinsi mana pun. Sekarang, 4,53 persen warganya dianggap miskin.
“Tingkat kemiskinan Jakarta adalah yang tertinggi dalam dekade terakhir dan bahkan mendekati kondisi Jakarta 20 tahun yang lalu [4,96 persen],” tulis Badan Pusat Statistik Jakarta.
Selain bantuan sosial untuk keluarga miskin di ibu kota, pemerintah kota juga mendistribusikan makanan pokok kepada orang-orang yang diduga menderita penyakit dan orang-orang yang mengisolasi diri di RW dinyatakan "zona merah".
Lebih dari 6.000 keluarga dari 48 kecamatan di daratan Jakarta dan empat pulau di Kepulauan Seribu yang telah dinyatakan sebagai zona merah pada 13 Juli terdaftar sebagai penerima bantuan sosial yang memenuhi syarat. Agen Sakong







0 komentar:
Posting Komentar