Rabu, 12 Agustus 2020

Jokowi menyerukan belanja daerah sebagai kontrak ekonomi

Jokowi menyerukan belanja daerah sebagai kontrak ekonomi

ASLIKARTU - Presiden Joko “Jokowi” Widodo meminta pemerintah daerah untuk mempercepat belanja APBD untuk membantu mendorong perekonomian setelah produk domestik bruto (PDB) Indonesia mengalami kontraksi pada kuartal kedua. Agen Poker

Sekitar Rp 170 triliun (US $ 11,5 miliar) dana dari pemerintah daerah tertinggal di bank, menunggu untuk dicairkan, katanya.

“Saya optimistis triwulan III lebih baik dibanding triwulan II,” kata Jokowi saat rapat koordinasi di Bandung, Selasa. “Kami ingin tumbuh secara positif tetapi kami harus bekerja keras.”

Presiden berharap pembelanjaan terjadi antara Juli dan September untuk mencegah resesi pada kuartal ketiga.

Perekonomian Indonesia menyusut 5,32 persen tahun-ke-tahun pada triwulan kedua, yang terburuk sejak triwulan pertama tahun 1999, karena pembatasan pandemi menghantam kegiatan ekonomi dengan keras. Pengeluaran pemerintah, yang diharapkan dapat menopang ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat di tengah aktivitas sektor swasta yang mereda, turun 6,9 persen selama periode tersebut.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan ekonomi tumbuh tidak lebih dari 0,5 persen atau bahkan berkontraksi lebih lanjut pada kuartal ketiga, yang berarti negara bisa jatuh ke dalam resesi.

Resesi biasanya didefinisikan sebagai kontraksi ekonomi tahunan dalam dua kuartal berturut-turut.

Lebih lanjut Jokowi mencatat, kontraksi ekonomi Indonesia sebesar 5,32 persen masih lebih baik dibandingkan negara lain, seperti Jerman, Prancis, dan Amerika Serikat masing-masing sebesar 11,7 persen, 19 persen, dan 9,5 persen.

Agen Domino

“Pemerintah daerah harus memprioritaskan belanja mereka pada kuartal ketiga karena semakin cepat belanja terjadi, semakin besar peluang kita untuk kembali ke lintasan ekonomi yang positif,” katanya.

Pemerintah mengalokasikan Rp 695,2 triliun untuk penanggulangan pandemi, termasuk kebutuhan ekonomi, sosial dan kesehatan.

Namun, baru menghabiskan Rp 145,4 triliun yang didominasi oleh bansos dan stimulus usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sedangkan penyaluran dana stimulus untuk kesehatan dan pembiayaan korporasi tertinggal.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan pada pertemuan yang sama 10,7 juta keluarga telah menerima bantuan sosial hingga Selasa karena hanya 25 persen dari 50 juta penduduk Jawa Barat yang berhak mendapatkan bantuan. Ia mengklaim, sebenarnya 72 persen penduduk membutuhkan bantuan sosial.

Perekonomian Jawa Barat mengalami kontraksi 5,9 persen pada triwulan kedua, menyusut lebih jauh dari kontraksi nasional pada periode yang sama.

Provinsi tersebut melaporkan pertumbuhan ekonomi 2,73 persen pada kuartal pertama tetapi pandemi telah menurunkan industri manufaktur, mengakibatkan kontraksi yang dalam pada kuartal berikutnya, Ridwan menambahkan.

Sekitar 40 persen PDRB Jawa Barat bersumber dari industri manufaktur.

Ridwan mengatakan pemerintahannya akan mempekerjakan orang-orang yang terkena pandemi dalam proyek-proyeknya dan meminta pemerintah untuk membeli barang konsumsi dari produsen lokal di Jawa Barat, menambahkan bahwa beberapa perusahaan, seperti produsen senjata milik negara PT Pindad dan pembuat pesawat milik negara PT. Dirgantara Indonesia, telah memusatkan perhatian pada kebutuhan kesehatan dengan memproduksi ventilator sebagai salah satu cara bertahan dari pandemi COVID-19.

“Pemerintah pusat bisa membeli seragam dan barang habis pakai lainnya dari pabrik kami, jadi ini bisa menjadi win-win solution,” ujarnya. Agen Sakong

0 komentar:

Posting Komentar