Rabu, 05 Agustus 2020

Pemerintah mendesak untuk meningkatkan pengeluaran karena resesi membayangi

Pemerintah mendesak untuk meningkatkan pengeluaran karena resesi membayangi
Pemerintah mendesak untuk meningkatkan pengeluaran karena resesi membayangi

ASLIKARTU - Para ekonom telah mendesak pemerintah untuk meningkatkan pengeluaran negara dan mengendalikan penyebaran virus korona untuk mempercepat pemulihan karena ekonomi Indonesia berkontraksi untuk pertama kalinya sejak 1999. Agen Poker

Produk domestik bruto (PDB), ukuran terluas dari barang dan jasa yang diproduksi, menyusut 5,32 persen tahun-ke-tahun (yoy) pada triwulan kedua, penurunan paling tajam sejak triwulan pertama tahun 1999, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Rabu.

Semua komponen kecuali ekspor bersih turun setiap tahun karena negara itu dilanda pandemi COVID-19.

Pengeluaran rumah tangga, yang menyumbang lebih dari setengah dari PDB, turun 5,51 persen yoy pada kuartal kedua, sementara investasi, kontributor terbesar kedua, dikontrak 8,61 persen. Ekspor dan impor menyusut masing-masing sebesar 11,66 persen dan 16,97 persen, karena perlambatan perdagangan global, tetapi dengan impor yang turun lebih dari ekspor, perdagangan memiliki dampak positif pada PDB pada kuartal kedua.

Pengeluaran pemerintah, yang diperkirakan akan memperkuat ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat di tengah aktivitas sektor swasta yang dingin, anjlok 6,9 persen selama periode tersebut.

"Meskipun kami memperkirakan pemulihan pada kuartal ketiga, ekonomi berisiko resesi jika pemerintah gagal meningkatkan pengeluaran dan meningkatkan konsumsi rumah tangga," kata ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual kepada The Jakarta Post, Rabu.

“Kinerja ekonomi akan sangat bergantung pada apakah pemerintah dapat mempercepat pengeluaran untuk mendongkrak pertumbuhan,” tegasnya.

Pemerintah, kata David, harus meningkatkan pengeluaran untuk bantuan langsung tunai bagi masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah dan menyuntikkan dana ke proyek infrastruktur untuk merangsang ekonomi.

Pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah mengalokasikan Rp 695,2 triliun (US $ 47,5 miliar) dari anggaran negara untuk merangsang perekonomian dan memperkuat respons pandemi negara, tetapi pencairan yang lambat karena birokrasi diperkirakan akan menunda dampaknya terhadap perekonomian.

Agen Domino

Sejauh ini, pemerintah baru merealisasikan Rp 145,4 triliun dari belanja tanggap pandemi yang dialokasikan, didominasi oleh bantuan dan stimulus sosial bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sementara pencairan dana stimulus untuk perawatan kesehatan dan pembiayaan perusahaan, antara lain. , tertinggal.

Jokowi berulang kali menyatakan kekecewaan di kabinetnya atas penggunaan dana darurat COVID-19 yang buruk. Dia mengatakan pada hari Senin bahwa kementerian dan lembaga pemerintah kurang memiliki rasa urgensi di tengah krisis kesehatan.

“Laju pemulihan ekonomi akan sangat bergantung pada seberapa baik pemerintah mengendalikan penyebaran COVID-19 di Indonesia dan efektivitas program pemulihan ekonomi nasional ke depan,” kata Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro.

Ia memproyeksikan perekonomian akan semakin menyusut pada triwulan III, meskipun lebih lambat dibandingkan triwulan II, yang berarti Indonesia akan mengalami resesi.

Resesi biasanya didefinisikan sebagai kontraksi ekonomi tahun-ke-tahun dalam dua kuartal berturut-turut.

Andry mengatakan ekonomi bisa berkontraksi sebesar 1 persen tahun ini karena penurunan aktivitas pada semester pertama lebih besar dari yang diantisipasi sebelumnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan ekonomi akan tumbuh tidak lebih dari 0,5 persen atau bahkan berkontraksi lebih lanjut pada kuartal ketiga, sementara pertumbuhan PDB kuartal keempat diproyeksikan mendekati 3 persen, membuat ekspansi setahun penuh dari nol menjadi 1 persen.

“Pemerintah menggunakan instrumennya, seperti bantuan sosial dan paket stimulus bagi UMKM agar tetap mempertahankan pekerjanya, untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan investasi,” ujarnya, Rabu. “Kami terus mengawal perekonomian agar terus tumbuh dan stabil.”

Secara keseluruhan, PDB telah berkontraksi 1,26 persen pada semester pertama dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, menurut data BPS.

Laporan PDB mencerminkan dampak gangguan yang meluas terhadap ekonomi karena pemerintah memerintahkan pemberlakuan pembatasan sosial skala besar (PSBB) pada bulan April dan Mei untuk menahan penyebaran virus corona. Pembatasan tersebut mengharuskan orang untuk bekerja dan belajar dari rumah dan tidak berkumpul di rumah ibadah.

Akibatnya, sekitar 3,7 juta orang kehilangan pekerjaan sepanjang tahun ini, menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), angka yang diperkirakan akan mencapai sekitar 10 juta pada akhir tahun.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengatakan pada hari Rabu bahwa pemerintah sedang mempersiapkan insentif baru berupa modal kerja untuk 12 juta UMKM dan dukungan dana bagi tenaga kerja.

Airlangga mengatakan ekonomi telah mencapai titik terendah pada kuartal kedua dan mungkin membaik pada kuartal ketiga karena pemerintah membuka kembali ekonomi.

“Perbaikan kinerja ekonomi sejak Juni bisa terpukul jika kasus [virus korona] terus meningkat dan pengeluaran pemerintah tetap lesu,” kata ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal. “Kuncinya adalah mengendalikan pandemi dan mempercepat pengeluaran stimulus.” Agen Sakong

0 komentar:

Posting Komentar