Kamis, 15 Oktober 2020

Dalam upaya penyelesaian damai untuk konflik Papua

Dalam upaya penyelesaian damai untuk konflik Papua


ASLIKARTU - Siklus kekerasan di provinsi Papua di Indonesia tetap tidak terputus dengan kelompok bersenjata di distrik Intan Jaya dan Nduga terus menargetkan warga sipil dan personel keamanan yang tidak bersalah selama dua bulan terakhir. Agen Poker

Distrik Intan Jaya mencatat bulan paling berdarah pada September tahun ini, dengan kelompok-kelompok bersenjata melakukan serangkaian serangan di daerah itu, yang menyebabkan dua tentara dan dua warga sipil tewas dan dua lainnya luka-luka.

Kelompok bersenjata terkenal di provinsi Indonesia melanjutkan aksi teror mereka di bulan Oktober.

Pada 6 Oktober 2020, misalnya, beberapa anggota kelompok bersenjata Papua dilaporkan menembaki pos TNI di lingkungan Pasar Baru Kenyam, distrik Nduga, melukai satu warga sipil.

Warga sipil yang diidentifikasi bernama Yulius Wetipo (34) itu tertembak saat melintasi pos pengamanan TNI dalam perjalanan menuju tempat kerja, demikian keterangan yang diterima ANTARA. Ia menuju camp PT Dolarosa.

Dia dilaporkan menderita luka tembak di sisi kiri dan kanan pinggang.

Pada 9 Oktober 2020, kelompok bersenjata lainnya menyergap Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk pemerintah untuk menyelidiki penembakan baru-baru ini di Desa Mamba, Kecamatan Sugapa, Kabupaten Intan Jaya.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) membenarkan pihaknya berada di balik penyerangan terhadap anggota TGPF. Salah satu anggota tim pencari fakta dan seorang tentara terluka dalam serangan itu.

Anggota TGPF - dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Bambang Purwoko - ditembak di bagian kaki, sementara Sersan Satu Satgas Hitadipa TNI TNI Faisal Akbar mengalami luka di pinggang.

Menurut catatan Polda Papua, selama sembilan bulan terakhir, kelompok bersenjata yang beroperasi di Intan Jaya terlibat dalam 17 kasus kekerasan terhadap warga sipil dan aparat keamanan yang tidak bersalah.

Akibat maraknya tindak kekerasan yang mematikan tersebut, enam orang termasuk anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) tewas, kata Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw belum lama ini.

Penjahat bersenjata tidak hanya menargetkan warga sipil dan personel keamanan, tetapi juga membakar beberapa ekskavator dan kios.

Agen Domino

Dulu, kelompok bersenjata biasa melintasi wilayah Intan Jaya dalam perjalanan ke beberapa daerah pegunungan, termasuk di Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika. Namun, saat ini, mereka telah menjadikan distrik itu sebagai basis mereka.

Waterpauw mengungkapkan enam kelompok bersenjata saat ini aktif di wilayah Intan Jaya, termasuk Kecamatan Hipadipa. Mereka dipimpin oleh Sebinus Waker dan dilaporkan memiliki 17 senapan.

Mereka dilaporkan merampas senjata saat penggerebekan terhadap anggota TNI dan polisi, termasuk senapan Steyr, yang mereka sita pada 2015, katanya.

Menanggapi siklus kekerasan yang sedang berlangsung, seorang legislator yang mewakili daerah pemilihan Papua telah mengimbau kepada polisi dan TNI untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat Papua untuk menangani dan mencari solusi atas konflik di provinsi tersebut.

“Kebijakan yang diprioritaskan oleh aparat penegak hukum dan keamanan di Papua adalah bagaimana menciptakan rasa aman dan perdamaian menyeluruh di atas tanah Papua,” kata Yan Permenas Mandenas, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Ia berpendapat bahwa kelompok bersenjata di balik kejahatan tersebut harus ditangkap dan diadili agar masyarakat setempat dapat melanjutkan kehidupan damai mereka, dan pemerintah daerah untuk terus melayani masyarakat.

Terganggunya perdamaian dan stabilitas di provinsi tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan program pembangunan pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial ekonomi bagi seluruh rakyat Papua.

Untuk mencari solusi atas konflik Papua, Kementerian Pertahanan memprakarsai FGD di Jakarta pada 14 Oktober 2020 di mana mantan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, diundang sebagai pembicara tamu.

Kalla berpendapat, pada prinsipnya semua konflik kekerasan bisa diselesaikan melalui penyelesaian damai, namun setiap wilayah yang dilanda konflik mungkin menuntut pendekatan yang berbeda. Mengenai konflik Papua, pendekatan penyelesaiannya mungkin berbeda dengan Aceh.

Sejak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, negara ini telah mengalami 15 konflik skala besar, yang sebagian besar diselesaikan melalui operasi militer, katanya.

“Di Indonesia merdeka, kami telah mengalami 15 konflik skala besar dengan sekitar 1.000 korban jiwa. Tiga belas dari 15 konflik skala besar diselesaikan melalui operasi militer, sedangkan dua sisanya diselesaikan melalui penyelesaian damai,” katanya.

Sebagai pemrakarsa penyelesaian damai konflik Aceh, Kalla menggarisbawahi pentingnya berpegang teguh pada prinsip dasar menyampaikan win-win solution untuk mencapai perdamaian abadi.

Merujuk pada pengalamannya sendiri dalam mewujudkan penyelesaian konflik damai di Aceh, ia mengatakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tidak pernah menyerahkan senjata senjata sayap bersenjata kepada pemerintah Indonesia.

Sebaliknya, menurut Kalla, senjata tersebut dihancurkan GAM, mengingat itu pilihan terbaik untuk menjaga martabatnya. Oleh karena itu, dalam mencari solusi damai untuk konflik bersenjata, tidak ada pihak yang bertikai harus merasa kalah atau merasa martabat mereka direndahkan, katanya.

“Aceh yang begitu resisten bisa dibujuk untuk menyelesaikan konflik melalui perundingan damai,” ujarnya seraya menambahkan bahwa dalam menyelesaikan konflik Papua, strategi yang sama yang digunakan untuk penyelesaian konflik di Aceh tidak bisa diterapkan.

Di Aceh, kelompok bersenjata memiliki rantai komando yang jelas sehingga pendekatannya diprioritaskan di tingkat atas, sedangkan di Papua, kelompok bersenjata tersebut berasal dari berbagai faksi yang tidak memiliki rantai komando yang jelas, ujarnya.

Di Papua, kelompok bersenjata yang beroperasi di satu kabupaten atau desa tidak memiliki rantai komando yang jelas dengan mereka yang ada di kabupaten atau desa lain, katanya. Fakta ini tidak menyiratkan bahwa konflik di kawasan itu tidak bisa diselesaikan, ujarnya.

"Cara untuk menyelesaikannya (konflik) tetap ada, tapi saya tidak akan menjelaskannya secara terbuka di sini," kata Jusuf Kalla.

Namun, apa yang dikemukakan Kalla tetap memberi harapan bahwa ada cahaya di ujung terowongan untuk mencari penyelesaian damai konflik Papua, dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Agen Sakong

0 komentar:

Posting Komentar