![]() |
| Polisi Papua menyelidiki insiden penembakan fatal di Puncak |
ASLIKARTU - Penyidik Polres Puncak terus berupaya mengungkap penembakan dua mahasiswa di kawasan Gome Utara Kecamatan Ilaga pada Jumat, yang menewaskan Atanius Murib (16) dan melukai Manus Murib (16). Agen Poker
Penyidik polisi telah bertemu dengan Manus Murib, seorang siswa kelas 11 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Gome yang mengalami luka tembak di lehernya saat dirawat di Puskesmas Ilaga, kata Juru Bicara Polda Papua Senator Com AM Kamal.
Manus Murib telah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Timika di Kabupaten Mimika pada hari Sabtu untuk mendapatkan perawatan medis intensif sementara penyidik polisi berusaha untuk mengungkap mereka yang bertanggung jawab atas insiden penembakan tersebut, katanya di Jakarta, Minggu.
Manus Murib ditembak oleh penyerang bersenjata tak dikenal pada hari Jumat tetapi dia selamat dari insiden penembakan tersebut. Korban lainnya diidentifikasi sebagai Atanius Murib, siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Ilaga.
Kapolres Puncak Ajun Komisaris Com. Dicky Saragih sebelumnya mengatakan Atanius Murib tewas di lokasi yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 jam dari Kecamatan Ilaga, Kabupaten Puncak.
Saragih menuturkan, Manus Murib selamat dari insiden penembakan yang terjadi sekitar pukul 06.00 WIB itu setelah berpura-pura mati. Sebelum dievakuasi ke Timika, dia memberi tahu polisi bahwa dia dan Atanius Murib diserang dalam perjalanan ke Kecamatan Agandume.
Kedua siswa tersebut ditembak dari ketinggian di dalam hutan antara Kecamatan Agandume dan Dume. Penyerang mereka kemudian turun untuk memeriksa para korban, dan mengambil foto mereka sebelum meninggalkan TKP, katanya.
Setelah mengetahui penyerang telah meninggalkan daerah tersebut, Manus Murib mengatakan kepada polisi bahwa ia berusaha mencari bantuan warga Desa Jakimaki. Seorang pastor dan beberapa penduduk desa membawa Murib ke Puskesmas Ilaga untuk mendapatkan perawatan medis.
Atanius Murib yang meninggal akan dievakuasi oleh keluarganya untuk dimakamkan di desanya, tambah Saragih.
Provinsi Papua di Indonesia terus menjadi saksi lingkaran setan kekerasan, dengan kelompok kriminal bersenjata Papua di distrik Intan Jaya dan Nduga menargetkan warga sipil dan personel keamanan selama beberapa bulan terakhir.
Intan Jaya mencatat bulan paling berdarah pada September tahun ini, dengan kelompok bersenjata melancarkan serangkaian serangan di daerah itu yang merenggut nyawa dua tentara dan dua warga sipil serta melukai dua lainnya.
Kelompok bersenjata terkenal di provinsi Indonesia melanjutkan aksi teror mereka pada bulan Oktober.
Pada 9 Oktober 2020, misalnya, kelompok bersenjata menyergap Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk pemerintah untuk mengusut penembakan yang terjadi belum lama ini di Desa Mamba, Kecamatan Sugapa.
Dalam peristiwa tersebut, seorang anggota TGPF - dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Bambang Purwoko - ditembak di bagian kaki, sedangkan seorang prajurit TNI - Sersan Satu Faisal Akbar dari Satgas Hitadipa - mengalami luka di bagian pinggang. Agen Sakong







0 komentar:
Posting Komentar