![]() |
| Penembakan terhadap pekerja medis harus dikutuk: Kapolda Papua |
ASLIKARTU - Serangan baru-baru ini terhadap dua pekerja medis oleh pemberontak bersenjata Papua tidak dapat dibenarkan atas dasar apa pun dan perlu dikutuk dengan keras, kata Kepala Polisi Papua, Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw, pada hari Jumat. Agen Poker
"Saya telah memberi tahu pemerintah pusat tentang insiden itu, yang perlu dikecam kuat. Penembakan dua pekerja medis yang sedang melakukan misi kemanusiaan benar-benar tidak manusiawi," katanya di Timika, ibukota Distrik Mimika.
Pada 22 Mei 2020, dua pekerja medis - Almalek Bagau dan Eunico Somou - dari Pusat Kesehatan Wandai di Kabupaten Intan Jaya dilaporkan ditembak oleh pemberontak bersenjata ketika mereka memberikan obat untuk pasien COVID-19.
Menurut polisi, Bagau dan Somou membawa perangkat walkie-talkie untuk berkomunikasi dengan pos COVID-19 setempat karena tidak ada jaringan seluler di daerah itu. Hal ini menyebabkan penyerang mereka mengira mereka sebagai petugas keamanan dan menembaki mereka.
"Jika mereka (pemberontak) ingin menghadapi personil militer dan polisi, itu urusan mereka. Tapi, mereka tidak boleh membunuh pekerja kemanusiaan. Alih-alih membunuh pekerja kemanusiaan, mereka harus membantu mereka dan berterima kasih kepada mereka," kata Waterpauw.
TNI dan polisi telah meluncurkan perburuan untuk para pemberontak yang menyerang para pekerja medis, katanya, seraya menambahkan para penjahat bersenjata Papua telah melakukan tindakan kekerasan terhadap personil keamanan dan warga sipil yang tidak bersalah.
Situasi keamanan di Papua masih rapuh karena tindakan kekerasan mematikan yang dikaitkan dengan separatis Papua.
Para pemberontak sering terlibat baku tembak dengan anggota militer dan polisi Indonesia. Pemberontak juga telah melancarkan serangan mematikan terhadap warga sipil selama beberapa tahun terakhir, menewaskan banyak dari mereka.
Sesuai catatan Kepolisian Papua, dari awal Januari hingga 28 Desember 2019, setidaknya 23 kasus penembakan dan kriminal yang melibatkan kelompok-kelompok bersenjata Papua telah merenggut nyawa 10 anggota polisi dan militer Indonesia, serta 10 warga sipil.
Kelompok-kelompok bersenjata itu terutama menargetkan wilayah administrasi distrik Puncak Jaya, Jayawijaya, Mimika, dan Paniai pada 2019, kata Waterpauw pada 28 Desember tahun lalu. Agen Sakong








0 komentar:
Posting Komentar