Sabtu, 04 Juli 2020

Setelah kejutan COVID, Indonesia bergerak untuk membuat krisis sektor kesehatan siap

Setelah kejutan COVID, Indonesia bergerak untuk membuat krisis sektor kesehatan siap
Setelah kejutan COVID, Indonesia bergerak untuk membuat krisis sektor kesehatan siap

ASLIKARTU - Pandemi virus korona, yang pertama kali muncul di Cina pada akhir 2019 dan kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, telah membuat banyak negara tidak siap, memicu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia. Agen Poker

Kurangnya perencanaan dan persiapan dalam menghadapi krisis telah menyebabkan korban jiwa, termasuk para dokter dan perawat yang bertarung di garis depan pertempuran COVID-19, seringkali dengan perlindungan pribadi yang tidak memadai karena kekurangan peralatan medis dan keselamatan yang kritis, termasuk masker, yang mudah diproduksi dan murah harganya.

Pada 4 Juli 2020, jumlah kasus COVID-19 di seluruh dunia telah mencapai 11.219.696, dengan 6.363.696 pemulihan dan 529.601 kematian.

Di Indonesia, 62.142 orang telah terinfeksi virus sejauh ini, dengan jumlah pasien yang pulih dari virus naik menjadi 28.219 dan jumlah kematian meningkat menjadi 3.089.

Sesuai data yang diberikan pada 6 Mei 2020 oleh Satuan Tugas untuk Percepatan Tanggapan COVID-19, 55 pekerja medis - 38 dokter dan 12 perawat - telah meninggal karena infeksi di Indonesia.

Di Jawa Timur, 86 dokter dan 146 perawat telah terpajan COVID-19, kata Dr. Sutrisno, ketua Asosiasi Medis Indonesia (IDI) provinsi tersebut. Tiga belas dokter dan 11 perawat meninggal karena penyakit itu, tambahnya.

Di Sulawesi Selatan, Prof Dr Syafri Kamsul Arif, juru bicara gugus tugas COVID-19 lokal, mengatakan bahwa 70 petugas kesehatan telah tertular virus ini, 60 persen di antaranya telah pulih sepenuhnya.

Pekerja medis berada di garis depan dalam perang melawan COVID-19, dan oleh karena itu, mereka harus diperlengkapi dan dilindungi dengan baik.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menginstruksikan para pembantunya untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah kematian lebih lanjut pekerja medis akibat COVID-19.

Upaya tersebut termasuk memastikan ketersediaan Alat Pelindung Diri (PPE) untuk pekerja medis yang menangani pasien COVID-19.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto telah memberlakukan relaksasi pada peraturan ekspor dan impor pada peralatan kesehatan dan PPE dan pasokan medis lainnya, sebagai bagian dari upaya untuk memecahkan masalah kelangkaan mereka di tengah pandemi COVID-19.

Tapi, itu tidak lebih dari ukuran sementara. Dalam jangka panjang, bangsa ini harus mampu menghasilkan pasokan medis dan mandiri di sektor kesehatan.

Presiden Jokowi telah menyoroti beberapa masalah yang dihadapi oleh negara saat ini, dan yang akan terus membebani selama beberapa tahun ke depan jika mereka tidak segera diselesaikan.

"Sebagai contoh dari apa yang terjadi di sektor kesehatan, [mari kita lihat] industri farmasi [yang] masih mengimpor bahan baku, dengan 95 persen masih diimpor," Presiden menunjukkan.

Agen Domino

Oleh karena itu, pemerintah telah mensponsori beberapa universitas terkemuka, termasuk Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Airlangga (Unair), untuk melakukan proyek penelitian dan inovasi yang berfokus pada pencegahan, penyaringan, dan diagnosis; peralatan medis dan perangkat pendukung; obat-obatan dan terapi; dan, humaniora sosial.

Menurut Kementerian Riset dan Teknologi Indonesia, pihaknya telah mengumpulkan dana hampir Rp200 miliar untuk membiayai penelitian tentang pengembangan vaksin, obat-obatan, dan produk inovatif lainnya untuk mendukung perjuangan Indonesia melawan pandemi COVID-19.

"Kami percaya bahwa dana yang kami kumpulkan cukup untuk membiayai upaya penelitian dan inovasi hingga tahap prototipe," Menteri Riset dan Teknologi Bambang P. S. Brodjonegoro mencatat pada 27 Mei 2020.

Kementerian juga telah mengalokasikan dana tahap awal sebesar Rp5 miliar untuk mendukung penelitian pengembangan vaksin COVID-19 di negara ini.


Selain itu, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan kementeriannya mendorong pengembangan sektor industri negara, terutama bisnis yang terkait dengan sektor kesehatan, bekerja sama dengan beberapa pihak, termasuk universitas.

"Ini adalah arahan dari Presiden, [dan] tentu saja kita, sebagai pelatih industri, dapat terus mendorong pengembangan dan daya saing sektor farmasi dan peralatan medis," kata menteri baru-baru ini.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian memfokuskan pada peningkatan kinerja industri yang masih menikmati permintaan tinggi di pasar terlepas dari pandemi COVID-19, termasuk industri yang memproduksi PPE, peralatan medis dan etanol, masker dan sarung tangan, obat-obatan, dan fitofarmaka (obat-obatan herbal), serta industri makanan dan minuman.

Dia mencatat bahwa pada kuartal pertama tahun 2020, industri kimia, farmasi, dan kedokteran tradisional tumbuh paling tinggi yaitu 5,59 persen.

Kinerja positif ini dicapai di tengah pandemi COVID-19 karena industri masih mencatat permintaan yang tinggi di pasar, jelasnya.

Lebih lanjut, industri farmasi dan peralatan medis dimasukkan dalam Program Making Indonesia 4.0 dari Kementerian Perindustrian yang menargetkan untuk mempercepat penerapan Industri 4.0 di sektor manufaktur.

"Menjadikan Indonesia 4.0 adalah strategi menuju Industri 4.0 melalui transformasi manufaktur digital. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing industri nasional," kata Kartasasmita pada 21 Juni 2020.

Menjadikan Indonesia 4.0 adalah peta jalan untuk mempercepat pengembangan sektor industri yang bersaing secara global. Program ini bertujuan untuk mengamankan peringkat Indonesia di antara 10 negara teratas dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.

Program Making Indonesia 4.0 juga diharapkan dapat membantu meningkatkan ekspor neto negara tersebut sebesar 10 persen dari produk domestik bruto (PDB), menggandakan produktivitas terhadap biaya, dan meningkatkan pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sebesar 2 persen dari PDB.

"Dimasukkannya peralatan medis dan industri farmasi dalam pengembangan prioritas Making Indonesia 4.0 adalah salah satu upaya Kementerian Perindustrian untuk segera mewujudkan Indonesia mandiri di sektor kesehatan," kata menteri industri.

Kartasasmita menyoroti pentingnya menjadikan Indonesia mandiri dalam industri peralatan medis dan farmasi, terutama selama skenario darurat kesehatan, seperti yang terlihat hari ini.

Peralatan medis dan industri farmasi berada di bawah kategori permintaan tinggi di tengah pandemi COVID-19 ketika sektor-sektor lain menanggung beban terbesar.

Selain itu, kemandirian dalam perangkat medis dan industri farmasi diproyeksikan berkontribusi pada program pembatasan impor hingga 35 persen pada akhir tahun 2022.

"Inovasi dan penerapan Industry 4.0 pada perangkat medis dan industri farmasi dapat meningkatkan produktivitas," katanya.

Untuk tujuan ini, Kementerian Perindustrian telah bekerja untuk meningkatkan daya saing industri perangkat medis dan farmasi dengan mendorong pengenalan teknologi digital. Agen Sakong

0 komentar:

Posting Komentar