 |
| Gejolak politik di tengah COVID-19, resesi ekonomi bisa menambah beban |
ASLIKARTU - Indonesia telah berjuang keras untuk bertahan dari pandemi penyakit virus korona (COVID-19) dan dampak utamanya, terutama resesi ekonomi.. Agen Poker
Penghitungan negara dari kasus yang dikonfirmasi mencapai 336.716, total pemulihan pada 258.519, dan jumlah kematian pada 11.935. Itu menduduki peringkat ke-21 di daftar COVID-19 Worldometer di lebih dari 200 negara pada 13 Oktober 2020.
Indonesia mengalami kontraksi ekonomi 5,32 persen pada kuartal kedua tahun 2020. Beberapa juta orang Indonesia menjadi pengangguran karena pandemi COVID-19.
Bangsa ini harus menghadapi beban lain yang disebabkan oleh kekacauan politik yang ditandai dengan demonstrasi besar-besaran pada 6-8 Oktober dan 13 Oktober, di beberapa kota menyusul keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mendukung Undang-Undang Penciptaan Lapangan Kerja yang diusulkan pemerintah pada 5 Oktober. , 2020.
Pemerintah menegaskan bahwa setiap pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pengusaha, serikat pekerja, akademisi, dan pakar, dilibatkan dalam penyusunan UU Cipta Kerja, omnibus law pertama di Indonesia yang terdiri dari 79 undang-undang. RUU itu juga diperkenalkan ke publik, katanya.
Pada 9 Oktober, Presiden Joko Widodo menyoroti banyak manfaat undang-undang yang dimaksudkan untuk meningkatkan investasi dalam dan luar negeri serta menciptakan lapangan kerja bagi pekerja Indonesia. Undang-undang tersebut bertujuan untuk melindungi kepentingan pekerja Indonesia dan lingkungan serta meningkatkan perekonomian.
Namun, serikat pekerja, mahasiswa, beberapa dosen, dan aktivis memiliki pendapat yang beragam, karena mereka memendam keprihatinan atas hukum yang menguntungkan perusahaan daripada pekerja, karena akan mendorong outsourcing sistem ketenagakerjaan, memungkinkan pekerja kerah biru asing untuk bekerja di Indonesia, dan membahayakan lingkungan.
Pertukaran kata terus berlanjut melalui arus utama dan media sosial, tetapi tidak ada solusi yang terlihat, karena beberapa orang, termasuk legislator, menegaskan bahwa rancangan akhir undang-undang tersebut masih berlangsung. Ketika Parlemen mengesahkan undang-undang tersebut, salinan fisik dari draf final tidak didistribusikan kepada anggota parlemen yang hadir.
"Tidak, (kami tidak menerima hard copy draf final). Belum selesai, tapi sudah disahkan. Yang disahkan itu adalah ghost bill," kata Benny Kabur Harman, legislator Partai Demokrat, yang memutuskan untuk keluar saat pengesahan sedang berlangsung, kata.
Agen Domino
Achmad Baidowi, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (Baleg), membantah tidak mungkin membuat salinan undang-undang dalam waktu sesingkat itu, menambahkan bahwa tidak ada kewajiban untuk membagikan hard copy draf final kepada anggota selama masa jabatan. musim paripurna.
Beberapa orang masih menunggu kepastian DPR atas rancangan akhir UU Cipta Kerja, karena beberapa versi undang-undang tersebut telah dimuat di media online, seperti yang 905 halaman, 1.028 halaman, 1.035 halaman, dan 1.052 halaman.
Presiden Jokowi percaya bahwa disinformasi dan hoax di media sosial menjadi penyebab maraknya penentangan terhadap UU Cipta Kerja.
Selama unjuk rasa besar pada 8 Oktober, video viral menunjukkan beberapa mahasiswa yang ditangkap ditanyai apakah mereka telah membaca draf akhir UU Cipta Kerja, yang semuanya menjawab dengan negatif, menambahkan bahwa mereka belum pernah membaca UU tersebut.
Meski demikian, pengunjuk rasa kembali turun ke jalan pada 13 Oktober. Untuk itu, Polda Metro Jaya mengerahkan sekitar 20 ribu petugas untuk menjaga ibu kota.
Polda Metro Jaya menetapkan 87 orang sebagai tersangka atas dugaan keterlibatan mereka dalam aksi kekerasan melawan hukum pada 8 Oktober 2020.
“Kemarin, saya mengatakan 285 orang sedang diselidiki. Sekarang baru 87 orang yang ditetapkan sebagai tersangka, ”kata Kombes Yusri Yunus, Kepala Bagian Humas Polda Metro Jaya, membenarkan.
Tujuh dari 87 tersangka akan menghadapi hukuman penjara lebih dari lima tahun, jika terbukti bersalah, katanya.
Faktanya, polisi Indonesia sebelumnya telah menangkap 5.918 orang yang diduga membuat keributan dalam aksi unjuk rasa yang diadakan di beberapa bagian negara itu.
"Saat aksi unjuk rasa yang berujung anarki, polisi menangkap 5.918 orang," kata Kepala Divisi Humas Irjen Pol Argo Yuwono dalam keterangan tertulisnya, 10 Oktober.
Yuwono menuturkan, status 240 orang yang ditangkap itu ditingkatkan statusnya ke penyidikan tindak pidana.
"Negara seharusnya tidak tunduk pada hooliganisme dan intoleransi," tegasnya.
Selain itu, sebanyak 145 demonstran yang ditangkap ternyata reaktif dalam uji cepat COVID-19, kata Yuwono.
Di Jakarta sendiri, polisi telah melakukan tes cepat terhadap 1.192 demonstran yang ditangkap.
Para demonstran yang ditahan terdiri dari pelajar SMA, mahasiswa, pekerja, dan anggota kelompok anarkis.
Sekitar seribu polisi yang menangani aksi unjuk rasa juga menjalani tes cepat COVID-19.
Sebelumnya, tim mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah memperingatkan bahwa aksi unjuk rasa yang meluas terhadap UU Cipta Kerja dapat memunculkan klaster baru COVID-19 di negara tersebut.
Ribuan orang bertemu dalam aksi unjuk rasa, dengan sebagian besar dari mereka jelas-jelas mengabaikan norma jarak fisik dan tidak mengenakan topeng, kata Ketua Tim Mitigasi IDI Dr M. Adib Khumaidi, SpOT dalam sebuah pernyataan pada 9 Oktober 2020.
“Dengan menyanyikan berbagai lagu dan lantunan, tentunya para demonstran mengeluarkan tetesan dan aerosol yang berpotensi menularkan virus corona,” tandasnya.
Dalam keadaan seperti saat ini, paramedis dan fasilitas kesehatan kewalahan menangani meningkatnya jumlah kasus COVID-19, katanya.
Hanya dalam minggu pertama Oktober 2020, lima dokter telah meninggal karena COVID-19, katanya.
Jumlah dokter yang meninggal akibat penyakit itu menjadi 132 orang. Dokter yang gugur itu terdiri dari 68 dokter umum (termasuk empat profesor) dan 62 dokter spesialis (termasuk lima profesor) serta dua residen, ”katanya.
Selanjutnya, baik pengunjuk rasa dan enam petugas polisi terluka selama demonstrasi.
Berdasarkan data awal, 60 pengunjuk rasa terluka dan mendapat perawatan medis di Jalan Kwitang Raya, Jakarta Pusat, menurut Palang Merah Indonesia (PMI) yang telah membantu merawat para pengunjuk rasa yang terluka.
Karena semua orang mengakui bahwa pandemi COVID-19 adalah masalah serius, negara harus menyalurkan pandangan dan upayanya dalam menangani penyakit menular yang menewaskan lebih dari satu juta orang di seluruh dunia.
Masyarakat juga harus bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri dan keselamatan orang lain dengan mematuhi protokol kesehatan yang terdiri dari tinggal di rumah, menjaga jarak fisik, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun.
Untuk itu, DPR juga perlu fokus membantu pemerintah dan masyarakat memerangi pandemi COVID-19. Anggota parlemen idealnya menahan diri untuk tidak mengeluarkan kebijakan yang dapat memicu oposisi besar dan tidak secara langsung memperhatikan penanganan COVID-19 dalam situasi kritis seperti itu.
Ketika pandemi berhasil dikendalikan, anggota parlemen akan memiliki cukup waktu untuk membuat atau mendukung undang-undang yang diperlukan, termasuk undang-undang omnibus yang membutuhkan waktu dan energi untuk pertimbangan yang cermat.
Agen Sakong
0 komentar:
Posting Komentar